Nrimo…

Ini bukan karena mentang-mentang saya di jogja selama 27 hari dan terkungkung antara hotel dan auditee setiap harinya (malah curcol). Ya, orang jawa memang identik dengan imejnya yang “nrimo” ini. Walau ada beberapa karakteristik si dan sometimes dipengaruhi oleh lokasi (kembali curcol). Ada yang nrimo yang beneran nrimo, ada juga yang nrimo tapi nggrundel (menggerutu) berkepanjangan ….yaak akhirnya beneran curcol hahahahaha…lupakan!!

Berkaca dari drama-drama yang tersaji di depan mata saya, termasuk drama saya sendiri yak, nrimo itu variatif yah. Nrimo saya adalah saat saya berusaha (biasanya cuma sekali dan dua kali) and then i failed. Saya menerima itu, dengan sedikit kecewa pada diri sendiri sih, but a day or two days, it gone. Saya bilang itu bukan nrimo si, tapi patah semangat hihihi. i’d rather not giving myself too much chance to try again and again. Maybe i am too afraid to feel disappointed yah. Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membunuhmu, itu prinsip saya.

Dapatnya juga dari pengalaman hidup. Ceritanya dulu saya ini orangnya perfectionis banget, kalau saya salah atau gagal melakukan sesuatu, tindakan saya bisa radikal. Bukannya memperbaiki yang salah, saya akan mengulang semua dari awal. Itu terjadi dalam banyak aspek, dalam hal kuliah dan kerja. Semua aspek hidup saya lah. Bahkan apabila majalah saya sobek ujungnya dikit, saya akan lebih memilih membeli majalah baru dan punya dobel edisi daripada punya satu tapi sobek. Well that’s me.

Dan memang kejadian terbesar dalam hidup saya mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah nrimo. Menerima kekurangan kita, menerima kekurangan orang-orang sekitar kita, menerima bahwa dunia ini tidak sempurna. Seganteng apapun mas David Beckham, tetap saja dia selingkuh. Sekeren apapun Ricky Martin, the fact tells that he’s gay Β dan se adorable apapun mas Joel tetep saja istri pilihannya ga lebih cantik dari saya (abaikan perbandingan yang terakhir). Semulus apapun model-model itu pasti mereka punya selulit somewhere, or pernah jerawatan gede di punggung, or panuan, or bisulan (oh well, ini cuma sesuatu untuk menghibur diri saya). Intinya pengalaman hidup menghajar saya untuk melihat diri saya, sebagai seorang yang tidak sempurna, and i have to deal with it. And when i deal with it, i still have to learn hard to accept other’s. Dan selama proses itu apa yang dibutuhkan? Acceptance, nrimo.

Perubahan tempat tinggal, teman kantor yang come and go, persahabatan yang mulai renggang, beban kerja yang semakin bertambah, tagihan yang menumpuk, kadang semua terjadi bersamaan. Mungkin saat semua itu kita alami, kita pengen orang lain untuk paham dan melegakan kita. But hey, smua orang mengalaminya. Suka tidak suka, kita musti menerima semua itu dan menghadapinya dan bukannya malah berharap orang lain akan selalu ada untuk mendukung. Saya menemukan bahwa sometimes God lets us to be alone, so we can feel that there’s no other man can strengthen us than Him.

Teori saya, penerimaan akan memberi kita hati yang lebih besar, pengertian yang lebih luas dan semoga akan membuat kita menjadi lebih bijaksana menyikapi setiap drama hidup. Β Hidup kita akan lebih penuh, tidak ada komplain yang terlalu berlebihan, tidak ada kekecewaan, tidak ada beban. Semua dilakukan dalam kadar yang tepat.

Nrimo bisa menjadi pelajaran seumur hidup dan saya pikir pasti penuh air mata :D. Tapi untuk menaikkan kualitas kita sebagai manusia dengan begitu banyak drama, it’s worth to do right?

Toodles…

Advertisements

2 thoughts on “Nrimo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s