Tak kenal maka ….

Semua orang pasti tau quote “Tak kenal maka tak sayang” bukan?

Kalo untuk saya pribadi, quote yang tepat adalah Tak Kenal pasti SALAH MENILAI saya 🙂

And here it comes my gloomy post ….

Saya sebenarnya seorang yang pemalu. Sejak kecil saking pemalunya saya, mengobrolpun jarang saya lakukan. Karena untuk mengucapkan satu kata saja membutuhkan semua keberanian yang saya punya. Saya lebih suka membaca, masuk dalam sebuah imajinasi yang disajikan oleh penulis, dan saya merasa disitulah saya hidup. Saya lebih memilih berkomunikasi lewat tulisan daripada lisan. Saya menyukai pelajaran mengarang. Saya lebih suka menjawab soal ujian daripada menjawab guru yang sedang bertanya saat mengajar. Semua itu terjadi hingga saya kuliah, sehingga saya bukanlah seorang murid/mahasiswi yang menonjol. Hanya sesosok wajah yang sedetik kemudian terlupakan.

Dengan background sifat saya yang seperti itu, tentulah saya tidak mempunyai banyak teman. Saya seorang yang saat sudah mempunyai seorang teman yang klik dan membuat saya nyaman, maka saya akan stick with him/her. Dan saya juga bukan orang yang suka bermain di luar rumah (seperti saya tulis diatas, hobi saya adalah membaca), sehingga praktis teman saya sebagian besar hanya ada di sekolah. Hal itulah yang membuat saya dicap sebagai “anak sombong” di kampung saya. Saya dianggap seperti itu karena saya jarang keluar rumah dan bermain-main di kampung seperti anak yang lain :).

Saya juga bukan tipe orang pertama yang bakal didekati saat suatu acara perkenalan atau semacam itu. Kata orang, wajah saya judes dan angkuh. Saya tidak tahu bagaimana semua itu berasal, tapi saya sendiri tidak merasa saya sedang menjudesi orang atau memang pasang wajah angkuh. Saya takut berhadapan dengan orang, kemudian orang tersebut kecewa dengan yang didapatkan dari saya, kemudian menolak saya. Mungkin itu ya yang membuat saya tanpa sengaja menampilkan wajah seperti itu.

Kata teman-teman yang akhirnya dekat dengan saya, awalnya mereka berpikiran saya angkuh dan judes, tapi setelah kenal dan dekat, saya orangnya rame dan konyol. Beberapa testimoni-testimoni yang saya dapatkan selama saya berteman inilah yang mendorong saya untuk belajar berkomunikasi dan mempunyai keahlian interpersonal yang lebih baik. Hal ini adalah hal tersulit buat saya, karena saya harus menekan introvert saya jauh kedalam dan menjadi lebih ekstrovert. Dan saya tetap merasa kesulitan untuk tampil ekstrovert di saat-saat pertama perkenalan dengan orang lain.

Saat saya mengikuti pendidikan yang diberikan tempat kerja saya selama 3 bulan, saya mengalami masalah misjudgement ini kembali. Permasalahannya terlalu panjang untuk diceritakan disini. Yang perlu saya ungkapkan adalah saya dan dua teman dekat saya agak dikucilkan alias dihindari oleh teman sekelas. Dan saya diikutsertakan dalam pengucilan ini dikarenakan saya suka diam dikelas, wajah saya judes, dan saya suka baca novel The Godfather. Oh, well!! Wajah ini membuat saya tidak menikmati kelas selama 2/3 waktu pendidikan. Saya tidak tahu, yang salah wajah saya, ataukah saya yang tidak banyak berkata-kata atau mungkin bacaan saya??

Selewat masa pendidikan dan akhirnya saya bekerja di Jakarta saya berjuang dan sekaligus ditempa untuk tidak introvert lagi. Pekerjaan dan lingkungan mengharuskan saya untuk bisa mengungkapkan pendapat dan berdebat, berdialog dan mencari informasi, dan terutama berbasa basi (satu hal yang paling saya benci). Saya berjuang untuk survived. Saya tahu saya tidak bisa mengubah wajah saya menjadi lebih ramah, namun saya bisa mengubah gaya saya untuk lebih ceria. Cara saya berbicara mungkin selalu kental dengan nada tinggi, namun saya belajar untuk memadukannya dengan kemampuan bercanda dan meningkatkan pengetahuan atas topik-topik yang menyenangkan sebagai bumbu pembicaraan. Dan saya bisa survived. Saya dikenal punya wajah judes, tapi saya tidak dikucilkan. Saya mempunyai banyak teman yang sudah seperti saudara (karena di perantauan ini saya tidak punya saudara sama sekali). Saya bergaul dan mempunyai pergaulan.

Namun itu bukan berarti saya sudah tidak memiliki masalah lagi. Saya mungkin ramah, saya mungkin kocak, tapi saya tidak bisa berbasa basi. Kata orang, saya terlalu lugas, terlalu polos, terlalu cablak, terlalu blak blakan. Bagi saya, itu suatu kelebihan, karena itu suatu kejujuran buat saya. Bagi orang lain yang berhati halus, kata-kata saya menyakiti mereka terlalu dalam. Dan tempat kerja saya adalah tempat yang penuh dengan orang berhati lembut. Oh, well, let’s not discuss this further more.

Ada dua hal yang mengiritasi saya hingga saat ini. Perdebatan saya dengan dua orang wanita. Bagi saya, hingga kini urusan ini belum selesai. Kenapa belum selesai? Karena mereka salah menilai saya.

Yang pertama adalah seorang wanita yang tidak akan pernah saya lupakan dan masih saya usahakan sekuat tenaga untuk memaafkannya. Wanita ini menilai saya sebagai seorang yang tidak menghargai dan menghormati pasangan saya, hingga saya BISA mengucapkan umpatan kepada pasangan saya, diperkuat lagi setelah melihat foto saya dengan wajah judes saya. Wanita ini memperoleh informasi tersebut secara sepihak, dan tentu saja pihak itu bukanlah saya. Saya akui saya memang mengumpat dan itu merupakan umpatan saya yang pertama kali dalam hidup saya karena orang tua saya sangat strict dalam melarang saya untuk mengumpat. Pembelaan saya adalah, saya sudah tidak tahan lagi diabaikan, status digantung tanpa ada informasi yang jelas. Pasangan saya tidak bisa diajak berkomunikasi dengan lancar. Dan feeling wanita saya merasakan, ada wanita lain (yang pada akhirnya feeling saya ini terbukti benar). Akhirnya, mengumpatlah saya tepat didepan bapak saya dan membuat bapak saya kaget bukan kepalang (hingga kini setiap kali mengingat reaksi bapak saya, saya tidak bisa menahan air mata). Maafkan anakmu ini ya pak (sungkem).

Yang kedua adalah seorang wanita yang mengenal saya juga dari cerita saja (dari pasangan saya). Singkat kata, saya merasa dia mendikte saya, memaksa saya untuk mengikuti apa yang dia mau. Dia merasa saya sudah salah jalan namun saya tidak mau bangun dan memperbaikinya. Disisi lain, saya merasa (dan menjelaskan padanya) bahwa saya punya cara sendiri untuk bangun dan mengobati (wanita ini mengistilahkan kalo saya sakit) diri saya. Saya juga semakin terganggu saat pasangan saya akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama wanita ini dan kelompok mereka dibanding dengan saya, padahal saat itu hubungan kami berdua perlu pembenahan akibat orang ketiga. Saya merasa seharusnya wanita ini mendukung pasangan saya untuk lebih banyak berpikir dan berdiskusi berdua dengan saya, bukannya menghabiskan waktu beramai-ramai dalam kelompok itu, dan akhirnya hubungan ini terbengkalai. Saya yang baru saja merasa ditinggalkan karena wanita ketiga, seperti ditinggalkan sekali lagi oleh pasangan saya. Saya mulai mempertanyakan arti keberadaan saya untuk pasangan saya, hingga akhirnya saya meminta pasangan saya untuk memilih. Butuh waktu yang cukup panjang dan patah hati (buat saya) bagi pasangan saya untuk memilih meninggalkan kelompok itu. Dan tentu saja saya sangat merasakan keberatan pasangan saya atas keputusan itu, saya merasakan pandangannya yang menyalahkan saya. Sampai saat inipun saya masih merasakannya.

Dengan wanita kedua ini tidak berakhir saat pasangan saya meninggalkan kelompok tersebut. Tanpa saya ketahui pasangan saya mengirimkan pesan kepada wanita ini bahwa dia merindukan kelompok tersebut dan cuma bisa membaca di twitter saja untuk mengobati rindu. Pesan ini dicapture oleh si wanita dan diaplot di sebuah socmed yang khusus menampilkan foto-foto, dengan kalimat pengantar sesak saat membacanya  dan ingin menangis. Saat saya melihat postingan itu, saya tahu apa penilaian dia buat saya. Bahwa saya adalah wanita egois, pemaksa, otoriter, pemarah. Dan hingga saat saya menulis ini saya ingin mengatakan padanya bahwa saya harap dia mengerti apa yang saya rasakan. Dia pernah bilang dia pernah mengalami seperti yang saya alami sehingga dia tahu apa yang seharusnya saya lakukan. That time and till now i keep saying “If u can feel what i’ve felt, then why you do that to me?”

Saya tidak membenci wajah saya ataupun sifat saya. Sejauh ini saya bersyukur mengalami semua itu yang membuat hidup saya sangat berwarna. Saya menyadari (setelah menulis ini) banyak perasaan hati yang harus segera diselesaikan, banyak hal yang harus diperbaiki. Saya berharap saya dan mungkin ada banyak lagi yang lain yang berwajah judes didunia ini tidak dinilai lagi dari wajah judes kami. Prejudge sometimes leads you to a big misjudge.

Sekian postingan galau kali ini.

Advertisements

4 thoughts on “Tak kenal maka ….

  1. Saat dinilai oleh orang, kita juga biasanya secara tanpa disadari menilai orang lain juga. Sekuat apapun dibantah, hal ini sudah menjadi sifat alami kita sebagai makhluk sosial. Tinggal kita aja yg menanggapi penilaian orang2 tersebut dengan cara bagaimana; dengan mata telanjang (yg menyebabkan kita langsung merasa tersakiti & membiarkan perasaan kita transparan & mudah diketahui oleh orang lain); atau dengan kacamata Ray-Ban model aviator yg fashionable itu. Kenapa kacamata Ray-Ban? Karena kacamata itu mampu memantulkan cahaya, artinya kita bisa saja kebal dengan ‘dakwaan’ orang lain terhadap kita, juga menjaga perasaan kita agar tidak dengan mudah ditebak oleh orang lain. Selain berfungsi sebagai pelindung, kita juga harus mampu menjaga pandangan & pembawaan kita agar kacamata mahal itu tetap terlihat ‘mahal’ & anggun. Caranya? Dengan selalu bersikap ramah, tidak berusaha menjadi sosok orang lain yg bukan diri kita, dan berpikir positif tentang orang lain.
    Sejauh yg saya kenal, meskipun saya adalah pendatang baru dalam dunia pertemanan Mbak Dina, tapi saya tahu bahwa Mbak Dina adalah sosok dengan kepribadian unik yg jujur, senang berteman, ramah & suka bercanda. Seseorang yg tidak seharusnya merasa dikucilkan atau mengucilkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s